contoh analisis film menggunakan teori-teori belajar
sumber gambar: https://www.google.co.id/search?q=film+the+king%27s+speech&espv=2&biw=1366&bih=667&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwj7zsnSrprMAhXHkJQKHbQICwAQ_AUIBigB#imgrc=3PKGn_URmqo01M%3A
v Sinopsis
Film The King’s Speech
The King’s Speech berkisah tentang Raja George VI, Albert (ayah dari ratu Elizabeth II). Bertie (panggilan sayang Albert di kalangan keluarga),
sepanjang hidupnya tak pernah berpidato di depan umum, Trauma masa kecil membuatnya gagap dalam berbicara. Tapi usai kematian sang ayah,
Raja George V ,dan skandal pernikahan saudaranya Edward dengan seorang wanita yang sudah bersuami, ia dianugrahi gelar Raja George VI dari Inggris.
Demi menyembuhkan penyakit gagap Bertie sekaligus menjadikan dia sebagai sosok pemimpin Inggris, istrinya, Elizabeth segera menghubungi ahli terapi bicara yang bernama Lionel Logue .
Setelah awal yang
sulit dan penuh ketegangan, Bertie
akhirnya bisa beradaptasi dengan cara kerja
Lionel. Bahkan ahli terapi dengan metode unik itu mampu membuat Bertie yang biasanya pemalu menjadi lebih berani. Salah satu contoh metodenya menggunakan musik. Bertie
mendengarkan musik yang keras di
telinga kemudian dia membaca sebuah teks. Musik tersebut mengalihkan rasa takutnya sehingga dapat berbicara secara lancer tanpa diasadari. Setelah terapi itu dilakukan berulang ulang akhirnya Bertie dapat berbicara secara lancar tanpa menggunakan musik (earphone). Terapi yang lain ialah pengucapan kata-kata sulit dengan berulang-ulang.
Dengan dukungan dari Keluarga,
Lionel dan pemerintahan Inggris. Bertie berhasil membawakan pidatonya di radio dengan lancer dan sukses, yang akhirnya menginspirasi rakyat Inggris untuk siap bertempur dalam perang.
v
Film The King’s Speech berdasarkan Teori-Teori
Belajar.
A.
Pengkondisian Klasik
(Classical Conditioning) oleh
Ivan Pavlov.
Merupakan Kemampuan merespon stimulus baru berdasarkan pengalaman yang diperoleh secara berulang – ulang. Contoh Kasus dalam film The King Speech “Bertie yang
gagap sulit berbicara di depan publik. Lionel Logue sebagai dokternya memberikan terapi bagaimana mengatasi rasa takut bicara di depan umum dengan mendengarkan musik yang keras di telinga dan secara bersamaan ia membaca sebuah teks.
Tanpa dia sadari, ia mampu berbicara dengan lancar karena suara musik tersebut mengalihkan rasa takutnya. Kemudian setelah terapi dilakukan berulang-ulang akhirnya Bertie dapat berbicara secara lancer tanpa menggunakan alat dengar musik (earphone)”.Kasus
yang terjadi pada Bertie bias dihubungkan dengan teori oleh
Ivan Pavlov
• Musik (UCS) :
berbicara ( UCR)
• Teks pidato (NS)
: gagap (NCR)
• Teks pidato + musik
: berbicara
• Teks pidato (CS)
: berbicara (CR)
|
Konsep dari Ivan
Pavlov tentang generalisasi,
deskriminasi, dan penghilangan (extinction). Proses generalisasi yaitu ketika Bertie berbicara lancar dengan merespon musik. Setelah ia mendengar musik yang keras dan lemah, ia juga akan berbicara lancar. Deskriminasi yaitu Bertie belajar untuk memberikan respon yang berbeda terhadap stimulus yang sama dengan meyakinkan bahwa berbicara selalu diikuti oleh musik
di telinga. Proses penghilangan terjadi ketika UCR (Berbicara) dilakukan berulangkali dan tidak diikuti oleh UCS (musik), sehingga berbicarapun menjadi CR.
B.
Pengkondisian
Operan (Operant Conditioning) oleh Thorndike dan B.F. Skinner
Proses pembelajaran dimana seseorang secara sadar terlibat dan aktif bertindak pada lingkungannya dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Dari Film The King’s Speech ini dihubungkan dengan teori Thorndike. Menurut
Thorndike Kekuatan S-R dipengaruhi :
1. Law
of Readiness : kesiapan Bertie dalam menerima terapi.
2. Law
of Exercise : terapi yang dilakukan Bertie secara berulang-ulang akan membuat dia berbicara dengan lancar.
3. Law
of Effect : keberhasilan terapi yang dilakukan oleh Lionel pada Bertie.
Dari Film The King’s Speech ini dihubungkan dengan teori B.F. Skinner
Ø
Positive Reinforcement.
Bertie
melakukan terapi dengan terapis yang
cocok dari segi bergaul dengannya yang
kemudian menjadi sahabatnya dan ia dapat mengurangi gagapnya.
Ø
Negative Reinforcement.
Lionel
melakukan kesalahan yang
mengakibatkan Bertie tersinggung sehingga dia sempat
tidak mau melanjutkan terapinya.
Kemudian Bertie dan Lionel baikan dengan menyingkirkan ego dan melanjutkan
terapi.
Ø
Positive Punishment.
Bertie
yang mulanya tidak dapat berbicara di depan publik, dia dinobatkan menjadi raja, padahal sebenarnya tidak ingin menjadi Raja, dan mau tidak mau ia harus
dapat mengatasi kegagapannya, sehingga akhirnya dapat mengatasi kesulitannya
berbicara di depan publik.
Ø Negative
Punishment.
Saat Lionel melarang Bertie untuk merokok, padahal
Bertie sangat ketergantungan dengan rokok untuk menghangatkan tubuh dan
menenangkan dirinya, akhirnya Bertie mulai bisa menghadapi ketakutannya tanpa
harus sangat ketergantungan pada rokok.
C.
Observational
Learning (Belajar Observasi) oleh Albert Bandura
Dari film ini ada sebuah adegan singkat dimana saat Bertie datang ke kantor Lionel untuk pertama kalinya, ia bertemu dengan anak kecil bernama
Willie. Lionel bercerita bahwa Willie
yang awal mulanya hampir tidak mau mengeluarkan suara dari mulutnya, saat itu sudah mulai berani berbicara setelah melakukan terapi yang diberikannya.
Dari
cerita itu dapat dihubungkan dengan teori Albert Bandura. Menurut
Albert Bandura ada 4 faktor yang saling berhubungan dalam proses belajar:
•
Atensi
Bertie
mengetahui bahwa Willie mampu berbicara setelah terapi, maka dia mengamati terapi yang diberikan Lionel.
•
Retensi
Bertie
menjadi hafal terapi yang dilakukan Lionel dan terus menerapkan terapi tersebut.
•
Production Process
Bertie
juga melakukan terapi Lionel dan mengingatkan
Lionel untuk selalu memberikan terapi.
•
Motivasi
Akhirnya
Bertie ingin selalu melakukan terapi tersebut secara berulang-ulang hingga dia tidak gagap lagi dan mampu berbicara lancar.








0 Response to "contoh analisis film menggunakan teori-teori belajar"
Posting Komentar