Malaikatku Jangan Pergi
Malaikatku
jangan pergi…
Malam
itu ketika aku duduk di balai-balai di teras rumah. Semilir angin sejukan
jiwaku yang gundah, angin malam melambai-lambaikan rambut sebahuku. Kerlip
bintang temani malamku yang kelam.
“huh..
malam ini sungguh berbeda” ucapku begitu lirih, nyaris tak terdengar.
Terlukis
wajah seseorang yang selama ini menjadi malaikat dalam hidupku, seseorang yang
selalu memberiku senyum semangat untuk tetap berdiri menghadapi gelombang
kehidupan. Namun, sekarang aku sendiri. Malaikatku tergolek lemah di
balai-balai kamarnya. Tak ada lagi cerita tentangku dan tentang malaikatku. Aku
rindu menatap langit bersama, menghitung pesawat yang melintas digugusan
bintang, aku rindu menjelajah galaksi-galaksi yang tuhan ciptakan.
Lamunanku
terhenti ketika kudengar sayup-sayup suara memanggil namaku, suara yang tak
asing lagi di telingaku. Dia adalah ibuku. Ibu yang selalu berusaha tersenyum
manis meskipun kehidupan yang ia jalani begitu getir.
“masuk
nak, udara diluar semakin dingin. Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu”.
Aku
tidak menjawab, kulanjutkan lamunanku tanpa kupedulikan suara ibu yang mulai
khawatir. Namun, baru beberapa saat kumenjelajah bersama ilusiku suara itu
kembali kudengar.
“masuk
nak, malam semakin larut. Esok kamu harus sekolah nanti kesiangan” tak ada pilihan
lain, akupun hanya menjawab singkat “iya bu”.
Aku
masuk kamar dan kututup pintu rapat-rapat. Ku coba pejamkan mata namun sia-sia.
Semakin keras aku berusaha tidur, hatiku semakin gelisah. Semalaman aku tak
bisa tidur, ada sesuatu yang mengganjal difikiranku. Aku memikirkan malaikatku.
Malaikatku
kini terbaring lemah sudah enam bulan lamanya. Tetapi senyum itu tetap ada
untukku. Senyum semangat namun begitu menyayat hati. Sekitar pukul 02.00 dini
hari, kudengar suara sayup-sayup malaikatku melantunkan ayat suci alquran yang
malaikatku baca, tak terasa butiran bening jatuh dari kelopak mataku membasahi
pipiku yang semakin tirus. Hatiku bergemuruh hebat. Aku takut, aku takut
malaikatku menghilang bersama gugusan bintang.
Aku
mulai terkantuk. Ketika aku hendak memejamkan mata, sayup-sayup kudengar suara itu semakin menghilang seakan tenggelam
dikegelapan malam. Rasa kantukku lenyap seketika, terganti oleh rasa takut yang
luar biasa. Aku ingin melihat mengapa suara itu menghilang, mungkinkah
malaikatku ikut menghilang?? Tetapi kuurungkan niatku, aku berfikir malaikatku
telah lelah lalu ia tertidur dalam dekapan bintang. Kembali kupejamkan mata
tanpa kupedulikan rasa takutku yang menyeruak didalam jiwa. Aku tertidur dengan
hati gelisah hingga suara azan membangunkanku. Aku terbangun dari tidurku,
perasaan takut dan gelisah tak sepenuhnya hilang. Kulangkahkan kaki untuk
mengambil air wudu, kubiarkan tetes demi tetes membasahi wajahku. Air wudu itu
mampu menyejukan hatiku yang gelisah. Kuhadapkan wajahku ke sang khalik,
kucurahkan isi hatiku. Kuberharap kesembuhan untuknya.
Seperti
biasanya, setelah sholat aku membantu ibuku. Namun, entah mengapa pagi itu
Nampak berbeda. Tak ada semangat sedikitpun yang terpancar dari wajahku,
seperti mentari pagi ini yang memilih sembunyi dibalik awan hitam.
Aku
memutuskan untuk berangkat ke sekolah meski aku tahu saat itu masih sangat
pagi. Seperti biasa aku berangkat sendiri, menyusuri jalan setapak. Kanan kiri
yang kulihat hamparan hijau sawah. Aliran sungai meliuk-liuk membelah hamparan
hijau padi, menambah keindahan pagi itu. Namun sayang, hatiku tak seindah itu
seakan ada kabut hitam yang menyelimuti hati.
Aku
sampai di sekolah sekitar pukul 05.45 pagi, suasana sekolah masih sangat sepi
hanya beberapa pedagang yang sedang sibuk menjajakan barang dagangannya.
Kulangkahkan kakiku menuju belakang sekolah untuk sarapan ditempat langgananku.
Tak harus menunggu lama, satu piring nasi sudah siap disantap. Aku memakannya
dengan perlahan, pagi ini tidak begitu berselera tetapi tetap aku paksakan.
Ketika disuapan terakhir, kakakku datang kesekolah dan menghampiriku. Aku kaget
karena tak biasanya kakakku menjemputku sepagi ini. Wajah kakakku sembab
seperti habis menangis. Aku langsung teringat malaikatku, “oh mungkinkah ini
terjadi??” dalam benakku. Kakakku memelukku erat dan membisikan sesuatu yang
membuat gelap dunia.
“dek,
ayah telah tiada. Ia telah kembali kepadaNya”ucapnya gemetar sambil menahan
tangis. Hatiku sangat pilu mendengarnya, seketika tak dapat lagi kulihat
keindahan dunia. Semuanya seperti sudah berakhir. Tak ada lagi gugusan bintang,
tak ada lagi cerita tentang kita, tak ada lagi senyum yang bisa membuatku
berdiri kokoh, rasanya tak ada alasan lagi kenapa aku harus ada di dunia ini.
Tangisku pecah, kakakku memelukku semakin erat dan mencoba menenangkanku.
Setelah tangisku reda kakakku mengajakku pulang.
Sesampainya
dirumah, aku lihat keranda mayat telah berada didepanku. Lantunan doa terdengar
dari dalam rumahku. Aku berlari ke kamar, tak kuasa aku membendung air mata
ini. Kutumpahkan semuanya dalam tangisanku. Aku tak berani beranjak dari
kamarku, aku tak sanggup melihat malaikatku yang kini telah terbujur kaku,
terlalu pilu rasanya.
“malaikatku,
jangan pergiiii….” Hanya itu kata-kata yang keluar disela-sela isak tangisku.
Kini aku takkan pernah lagi melihat senyum semangat dari malaikatku lagi.
Namun, kenangan aku dan malaikatku akan tetap hidup dihatiku, dan menjadi obat
terindah ketika rindu menyapaku.
“malaikatku..
jangan pergi, aku menyanyangimu” L







0 Response to "Malaikatku Jangan Pergi"
Posting Komentar