Aku, Kata, dan Siluet Senja

sumber gambar: https://www.google.co.id/search?q=siluet+senja+pasangan&espv=2&biw=1366&bih=623&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiyoNihsZrMAhXJipQKHQPuBqQQ_AUIBigB#imgrc=5azFLRFmr66fSM%3A



Aku, kata dan siluet senja
Sebuah kata yang sulit kuterka makna darinya, ia hadirkan resah laksana sang pujangga yang rindu akan syair dan keindahan makna indahnya. Namun, ketika resah itu sirna ia hadirkan kedamaian dan kenyamanan dalam sebuah kehidupan. Melodi mengalun indah dijiwa yang lara, inikah sebuah rasa yang membuat pujangga gila dibuatnya?? Membodohkan orang bijak, membijakkan orang bodoh. Rasa yang membuat aku seakan terkapar ditaman Firdaus, ohh tuhan indah sekali rasa ini. Namun rasa yang dahulu indah kini telah menjelma menjadi lara, sirna bersama hembusan angin diwaktu senja.
Mentari sore menampar tubuh kurusku, terlukis jelas siluet tubuh dan wajah tirusku yang seakan tak terurus. Fisik yang terlihat memprihatinkan merupakan cerminan hati yang menyimpan kata yang sulit kuterka. Rasa yang kutekan dengan logika membuat tubuh ini tak berdaya, bahkan air mata seakan enggan singgah meski hanya untuk menetralkan sedikit lara didalam jiwa. Senja selalu menjadi saksi bisu ketika aku bercengkrama sendiri berkawan sepi. Senjapun terkadang muak dan enggan untuk menampilkan kecantikannya. Ia memilih bersembunyi dibalik bulir air yang perlahan jatuh membasahi bumi.
Terbayang sesosok bayangan  hitam yang hadir dari balik jingga, menyibak kegundahan dalam jiwa menoreh rasa yang entah apa namaya. Kau hadir tawarkan sejuta cerita indah untuk arungi kehidupan bersama. Masih kuingat kehadiranmu di senja yang indah dengan senyum dan tatapan penuh cinta, kau raih jemariku dan kau sematkan cincin di jari manisku.
“persahabatan kita akan abadi dalam ikatan pernikahan, jagalah cincin ini dan jangan kau gadaikan dengan nafsu bertopengkan cinta hingga tiba saatnya nanti aku akan melepaskan cincin ini lalu aku ganti  dan memakaikannya di depan orang tuamu. Senja menjadi saksi dan aku akan membuktikan janjiku. Bersabarlah sayangku” janjinya masih terngiang-ngiang ditelingaku, terpatri didalam hatiku. Bagaimana tidak?? Rasa ini seakan disambut baik oleh siempunya hati, rasa yang telah lama kukorbankan demi persahabatan atau lebih tepatnya demi kebersamaan yang selalu tercipta dalam bingkai persahabatan.
Sore itu kami menikmati lukisan tuhan yang paling indah, siluet senja yang terhampar dipermadaniNya. Kami menyusuri pantai berpayungkan lembayung jingga yang terhampar sangat indah dilangit tuhan. Melukiskan siluet senja kebahagiaan menorehkan harapan untuk sebuah keabadian dalam sebuah doa dan keheningan. Kami duduk diatas pasir putih, kutatap siluet wajahnya yang terlihat sangat syahdu. Kugenggam erat tangannya seakan tak akan pernah kulepaskan. Kubisikkan janjiku yang merupakan jawaban dari janji dia.
“tak akan, tak akan ku gadaikan cincin ini dengan nafsu bertopengkan cinta. Aku akan menjaganya seperti aku menjaga persahabatan aku dan kau yang telah lama terjalin. Aku tidak akan menunggu kesuksesanmu dipuncak tetapi ijinkan aku mendaki bersamamu untuk menuju kesuksesan itu. Semuanya akan lebih mudah ketika kita menjalaninya berdua. Kerikil tajam kehidupan tak akan menyabik-nyabik dirimu, mari kita bergandengan tangan untuk menghadapi kejamnya kehidupan”. Aku menghela nafas lega, himpitan didada seakan telah sirna, tinggal bagaimana aku menjaga komitmen dengan dia.
Hari yang indah, setelah dari pantai aku dan dia dinner di Angkringan. Tempat yang penuh cerita dan kenangan dengan dia, tempat dimana biasa kami menghabiskan waktu bersama dari zaman  SMA. Tempat yang paling romantis yang pernah ku kunjungi dengan dia, makan dibawah gugusan bintang dan temaram cahaya rembulan.
Kami hanya saling diam menyelami isi hati masing-masing. Ada ketakutan yang menyeruak di dalam jiwaku namun tak kubiarkan seinchipun keluar dari jiwaku, biarkan aku dan Tuhan saja yang tahu. Kami menghabiskan waktu dinner hanya dengan diam namun penuh makna.
Setelah dinner, dia mengantarkanku pulang. Kami menyusuri jalanan Kota dengan hiasan lampu yang indah disepanjang jalannya. Dia bercerita tentang rencana yang telah ia susun untuk masa depannya, ia pun menanyakan beberapa hal kepadaku tentang tempat tinggal yang aku inginkan kelak jika sudah berumah tangga. Aku merasa semua yang ia ceritakan tertuju untukku atau lebih tepatnya untuk masa depan aku dan dia. Bagaimana tidak?? Hampir semua rencananya seperti yang pernah ia tanyakan kepadaku jauh-jauh hari. wanita mana yang tak tersanjung dengan rencana masa depan yang seakan perpaduan antara rencanaku dan rencananya. Cerita kami terhenti di penghujung jalan dekat rumahku, dia memang tak pernah mengantarkanku sampai rumah. Alasannya dia tidak mau ke rumah wanita yang ia cintai kecuali hanya untuk melamarnya, dia hanya menatapku dari ujung jalan untuk memastikan aku mendapat pintu dari ayahku.
Untunglah rumah sepi, aku bisa langsung membersihkan diri tanpa harus mendapat omelan ayah terlebih dahulu. Dududududu…. Lalalala… Pulang malam tanpa omelan, beginikah rasanya surga?? Aku tertawa geli, mendengar suaraku sendiri. Ping.. ping.. hp ku berdering. Tak kuhiraukan, kulanjutkan mandiku paling juga dari si masku (baca:yang telah berkomitmen diwaktu senja).
Selesai mandi aku langsung membuka handphone-ku, penasaran juga hihihhi. Lima pesan singkat dari dia, deg deg hatiku berdegup tak seperti biasanya. Kubaca kata demi kata hingga semua kata telah kujamah, senyum bahagia merekah dibibir manis yang telah hilang keindahannya sejak luka yang sempurna pernah tertoreh dihati sucinya. Dia mengajakku bertemu besok sore di batu dekat pantai, tempat yang biasa kami jadikan untuk melepas senja yang kembali ke peraduannya. Magic hours bagi kami yaitu ketika semburat jingga terhampar di kanvas tuhan, tak sabar rasanya melukis kisah kami selanjutnya.~
Hari yang cerah untuk jiwa yang sedang berbunga, alam seakan bahu-membahu melukis cerita indah aku dan dia. Jam didinding rumahku masih menunjukan pukul 15.00, aku sibuk di depan cermin mematut diri dengan baju-baju terbaikku. Tak seperti biasanya, entah mengapa hari ini aku ingin tampil jauh lebih cantik dari hari-hari sebelumnya. Tak sabar rasanya berjumpa dengan dia, dia yang telah berhasil melukiskan senyum yang telah terenggut oleh pedihnya cinta. Pukul  16.00 aku sudah siap, namun aku harus menunggu satu jam lagi karena kami janji bertemu pukul 17.00. satu jam yang lama bagi jiwa yang dilanda kerinduan cinta.
Akhirnya waktu yang ku tunggu-tunggu tiba, aku bergegas menuju tempat yang sudah kami sepakati. Aku terheran-heran ketika tak kulihat sosok yang kucari. Namun, kaki enggan untuk berhenti. Ia terus melangkah mengukir cerita disepanjang senja yang indah. Tak kutemukan dia, namun kutemukan sepucuk surat yang tertuju untukku. Aku baca kata demi kata, hingga air mata tak kuasa menahan luka dan derita.
Teruntuk sahabatku zahra,
Cerita tak akan sirna meski mentari tak bersinar hangatkan pagimu.
Cerita kita indah hingga rembulan iri akan kebahagiaan kita,
Kemarin adalah hari terindah dalam hidupku,
Ketika kusematkan cincin di jari manismu, terlukis masa depan yang indah terpancar dari wajahmu
Namun, entah mengapa rasa ini menyurutkanku untuk berjuang bersamamu
Kau nampak sempurna untuk diriku yang papa, tak ingin kau bergelimang derita ketika kau bersamaku yang tak punya apa-apa
Surat ini mewakili aku yang terlalu pengecut untuk bertemu denganmu
Aku akan pergi, seperti senja yang kembali ke peraduannya
Bedanya aku ragu akan kembali atau tidak
Berjuanglah, lanjutkan hidupmu tanpaku
Aku akan pergi untuk sebuah harapan yang baru
Salam sayang
Sahabatmu, sakty
            Lamunanku terhenti ketika tetes demi tetes hujan membasahi wajahku, tak ada gunanya membuka kembali kenangan yang telah usang. Kau akan selalu menjadi bayang-bayang gelap disenjaku.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Aku, Kata, dan Siluet Senja"

Posting Komentar

Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design